suarahebat.com, Jakarta -- Pasar keuangan Indonesia ditutup di zona merah pada perdagangan kemarin, bursa saham dan rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 9,12 poin atau 0,11% ke level 8.677,34 pada akhir perdagangan kemarin, Rabu (17/12/2025).
Sebelumnya IHSG bergerak di zona hijau pada sesi pertama dan baru berbalik arah jelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang memutuskan menahan suku bunga acuan RI tetap di 4,75%.
Sebanyak 379 saham menguat, 284 turun, dan 140 belum bergerak. Nilai transaksi kemarin mencapai Rp 37,75 triliun, melibatkan 54,60 miliar saham dalam 2,72 juta kali transaksi.
Diketahui nyaris setengah transaksi Bursa kemarin terjadi di pasar negosiasi, dengan transaksi sebesar Rp 14,01 triliun di saham PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY), Rp 1,45 triliun di saham PT Bangun Kosambi Sukses (CBDK), Rp 719 miliar di saham PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) dan Rp 474 miliar di saham emiten bank digital yang baru IPO dan perdana melantai kemarin PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA).
Kapitalisasi pasar pun kembali nyaris menyentuh Rp 16.000 triliun.
Mayoritas sektor perdagangan kemarin bergerak di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh sektor teknologi, industri dan kesehatan. Sementara itu sektor konsumer non-primer, barang baku dan utilitas yang mengalami koreksi paling dalam kemarin.
Emiten perbankan BUMN Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tercatat menjadi penggerak utama kinerja IHSG.
Saham BBRI melesat 1,63% kemarin ke Rp 3.750 per saham usai mengumumkan pembagian dividen interim, yang mana nilai nominalnya mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Saham BBRI berkontribusi atas kenaikan 9,88 indeks poin.
Sedangkan itu, emiten holding grup bisnis Prajogo Pangestu, Barito Pacific (BRPT), menjadi pemberat utama kinerja IHSG kemarin. Saham BRPT turun 3,57% ke Rp 3.510 per saham dan menyeret penurunan 7,8 indeks poin.
Sejumlah emiten lain yang ikut menjadi beban bagi kinerja IHSG kemarin termasuk PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Bank Central Aia (BBCA), PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO ), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Lanjut ke nilai tukar Rupiah, mata uang rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/12/2025), seiring keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan.
Melansir data Refinitiv, rupiah berhasil ditutup menguat 0,03% atau terapresiasi ke posisi Rp16.680/US$. Sejak pembukaan perdagangan kemarin, rupiah telah berhasil menguat 0,06% di level Rp16.660/US$.
Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak di rentang level Rp16.660 - Rp16.705/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB tengah menguat signifikan hingga 0,46% di level 98,601.
Penguatan rupiah di perdagangan kemarin seiring dengan rilis hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 16-17 Desember 2025.
BI kembali memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 4,75% pada RDG terakhir tahun ini. Sebagai catatan, sepanjang 2025 BI sudah melakukan pemangkasan BI-Rate sebanyak 125 basis poin (bps).
Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga/institusi, sebanyak tujuh lembaga memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%, sementara lima lembaga lainnya memproyeksikan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 4,50%.
Sebanyak tujuh lembaga yang memproyeksikan penahanan suku bunga menilai stabilitas nilai tukar rupiah masih menjadi pertimbangan paling krusial bagi BI.
Adapun, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, alasan utama suku bunga BI Rate ditahan pada akhir tahun ini ialah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mencapai titik terendahnya pada bulan ini di angka 6,.126% atau melandai dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level 6,148%.
Hal ini merefleksikan bahwa investor merasa kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia berada di stance yang optimal mengingat adanya ketidakpastian global sehingga menetapkan suku bunga pada level yang sama adalah langkah terbaik dalam menjaga stabilitas moneter dalam negeri.
Aroma Main Mata di Balik KSO PT APN: Korporasi Bermasalah Bangkit Lagi, Siapa Bermain?
Forkopimda Diduga Dilecehkan, Eks PT. DMMP Kembali Berebut Kelola: Negara Konsisten atau Kompromi?
Diduga Tetap Panen di Lahan Sitaan Satgas PKH, PT DMMP Dinilai Menantang Hukum dan Abaikan Perpres 5 Tahun 2025
YSAR Laporkan Dugaan Perkebunan Sawit Ilegal di Kawasan Hutan Ke Kejati Riau, Desak Penindakan Tegas PT DMMP
Kejagung Tegaskan Rp11,8 Triliun dari Wilmar Bukan Dana Jaminan, tapi Barang Bukti Korupsi CPO
Wilmar Buka Suara Usai Kejagung Sita Rp 11,8 T di Kasus Minyak Goreng
Ribuan Warga Australia Menanti Dievakuasi dari Iran-Israel
Ribuan Massa AMMP Kepung Kantor Gubernur Riau, Tolak Relokasi Kawasan TNTN
Truk ODOL Bandel Masih Berkeliaran di Pekanbaru, Dishub dan Polda Riau Beri Peringatan
Persiapan Pelantikan DPD SP Perisai Pancasila Kota Pekanbaru Telah Selesai Dilaksanakan
Ketua Umum FPKB Sindir Keras Demo Sepi Pendukung: “Lebih Baik Bikin Kegiatan Bermanfaat dari pada Hanya cari sensasi
Ida Yulita Diduga Rugikan Negara Rp704,9 Juta, GEMMPAR Siap Gelar Aksi di Depan Kajari
UMKM FPKB adakan lomba kuliner khas Melayu dengan hadiah puluhan juta
Komisi II DPRD Kepulauan Meranti Tegaskan Penolakan Wacana Kenaikan Tarif Ferry, Hearing Digelar Transparan
Usai Terima SK Dari H. Hercules Rozario Marshal, Dr. Martin Purba Langsung Satukan Kader GRIB Jaya Riau
Wujudkan Kepedulian Sesama Makhluk Hidup, GEMA Sadhana Riau Sambangi Pusat Konservasi Gajah Minas
Memaknai Langkah Berani Prabowo Redakan Perang
