Lahan Eks DMMP Disita Negara Tapi Tak Steril: Sudah Ada KSO Resmi, Kok Muncul Nama Baru? Ada Apa di Balik Agrinas? Siapa yang Bermain ???
DUMAI – Implementasi Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan kembali dipertanyakan. Lahan sitaan negara seluas ±1.458,7 hektare eks PT Duta Mas Makmur Perkasa (DMMP) di Kelurahan Pelintung, Kota Dumai, hingga kini diduga belum sepenuhnya berada dalam penguasaan efektif negara.
Padahal, penyitaan yang dilakukan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) sejak 17 Juli 2025 seharusnya menjadi penegasan kedaulatan negara atas kawasan yang sebelumnya diduga dikuasai tanpa dasar hukum yang sah.
Namun fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
Sejumlah laporan mengindikasikan aktivitas panen tandan buah segar (TBS) masih berlangsung di dalam area yang telah berstatus sita negara. Mobilisasi hasil kebun disebut tetap berjalan, seolah tidak pernah terjadi pengambil alihan oleh negara.
Lebih ironis, upaya masuk dan pengelolaan oleh pihak yang mendapat mandat resmi negara dilaporkan berulang kali dihadang. Bahkan, insiden penghadangan massal disertai aksi kekerasan sempat terjadi.
Upaya mediasi yang difasilitasi unsur Forkopimda Kota Dumai pada 7 Januari 2026 pun berujung buntu. Akses tetap ditutup oleh pihak yang menguasai lapangan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah Perpres No. 5 Tahun 2025 benar-benar dijalankan, atau hanya berhenti sebagai dokumen kebijakan tanpa daya paksa di lapangan?
Lebih lanjut, Penolakan penandatanganan Berita Acara Penguasaan Kembali (BAPK) oleh pihak perusahaan Eks PT. DMMP dinilai bukan sekadar persoalan administratif.
Dalam konteks Perpres 5/2025, tindakan tersebut berpotensi dikategorikan sebagai bentuk pembangkangan terhadap mandat negara dalam penertiban kawasan hutan.
Perpres tersebut secara eksplisit memberi kewenangan kepada Satgas PKH untuk:
1. Mengambil alih kawasan hutan yang dikuasai tanpa izin
2. Menertibkan aktivitas ilegal
3. Mengembalikan aset negara untuk kepentingan publik
Namun ketika penguasaan negara di lapangan tidak berjalan efektif, maka yang dipertaruhkan bukan hanya aset—melainkan wibawa hukum negara itu sendiri.
Di tengah mandeknya penguasaan, aktivitas produksi justru diduga terus berlangsung.
Estimasi produksi kebun:
- ±30 ton TBS per hari
- Harga ±Rp2.500/kg
Nilai produksi ±Rp1,875 miliar per bulan
Dalam periode November 2025 hingga Februari 2026, nilai produksi diperkirakan mencapai ±Rp5,625 miliar.
Dengan asumsi hak negara 40 persen melalui skema KSO, potensi kerugian negara ditaksir mencapai ±Rp2,25 miliar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kerugian negara akan terus berjalan secara sistematis—hari demi hari.
Sorotan tajam juga mengarah pada munculnya entitas baru, PT Agro Fortuna Jaya, dalam proses pengelolaan lahan.
Perusahaan ini diduga memiliki keterkaitan dengan pihak lama, sehingga memunculkan kecurigaan publik adanya praktik “ganti kulit”—pengelola lama masuk kembali melalui baju baru.
Padahal sebelumnya, PT Riden Jaya Konstruksi telah ditetapkan sebagai mitra KSO sah oleh PT Agrinas Palma Nusantara (Persero).
Jika benar terjadi, maka hal ini berpotensi:
- Mencederai tujuan penertiban
- Mengaburkan batas antara penegakan hukum dan kompromi
- Melanggar semangat Perpres 5/2025
Kasus ini kini tidak lagi sekadar konflik pengelolaan lahan.
Pemanfaatan aset negara tanpa hak yang terus berlangsung membuka potensi dugaan:
- Tindak pidana korupsi
- Penyalahgunaan keuangan negara (BUMN)
- Hingga Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)
Terlebih, praktik penguasaan kawasan selama bertahun-tahun diduga telah menghasilkan keuntungan besar yang belum sepenuhnya ditelusuri.
Sejumlah pihak menilai, negara tidak cukup hanya menyita lahan—tetapi juga harus mengejar aliran uang dari hasil pengelolaan ilegal tersebut.
Kasus Dumai kini menjadi cerminan langsung implementasi Perpres No. 5 Tahun 2025 di lapangan. Jika lahan yang telah disita negara masih dapat Dikuasai pihak lama, Diproduksi secara ilegal, Bahkan menghalangi mandat resmi negara
Publik kini mendesak aparat penegak hukum, khususnya Kejati Riau dan Mabes Polri, untuk segera bertindak tegas:
1. Mengusut dugaan pembangkangan terhadap Perpres 5/2025
2. Menelusuri potensi kerugian negara dan aliran dana
3. Mengungkap dugaan korupsi dan TPPU
4. Menjamin sterilisasi penuh lahan sitaan
Karena pada akhirnya, kasus ini bukan sekadar soal ribuan hektare kebun sawit.
Ini adalah soal apakah negara benar-benar berdaulat atas hutannya sendiri—atau justru kalah oleh kepentingan yang lebih kuat di lapangan.*jhn
Dugaan Penganiayaan Wanita di Kisaran Barat Dilaporkan ke Polres Asahan, Korban Alami Trauma
Jangan Tunggu Kejadian Berulang! Presiden Prabowo Didesak Audit Infrastruktur dan Tata Kelola PLN
Menyambut Era Baru Polri, Ketum IMO Indonesia, Yakub F. Ismail Dorong Kepemimpinan Humanis dan Adaptif
Apresiasi Ditreskrimum Polda Riau, S. Hondro Minta Dugaan Mafia Tanah di Rawang Air Putih - Siak Diusut Tuntas
Digerebek Tim Gabungan Bareskrim Polri Dan Polda Riau, 60 Pengunjung MP CLUB Pekanbaru Positif Narkoba
Polsek Kulim Tingkatkan Laporan ASE Waruwu ke Penyidikan, S. Hondro Apresiasi dan Desak Pelaku Segera Ditindak
Riau Kembali Tercekik Asap: Bencana Alam Atau Kegagalan Negara?
Tambahan Rp 20 Triliun untuk BPJS Kesehatan, Prabowo Tegaskan Pelayanan Harus Setara dan Tanpa Diskriminasi
Rokok Tanpa Pita Cukai Makin Marak di Pekanbaru, Bea Cukai Didesak Serius Lakukan Penindakan
Persiapan Pelantikan DPD SP Perisai Pancasila Kota Pekanbaru Telah Selesai Dilaksanakan
Ketua Umum FPKB Sindir Keras Demo Sepi Pendukung: “Lebih Baik Bikin Kegiatan Bermanfaat dari pada Hanya cari sensasi
Ida Yulita Diduga Rugikan Negara Rp704,9 Juta, GEMMPAR Siap Gelar Aksi di Depan Kajari
UMKM FPKB adakan lomba kuliner khas Melayu dengan hadiah puluhan juta
Gunakan 1 Unit Mobil Mixer Pengecoran Perdana Jalan Simpang Kartini - Malakopa Capai 30 Meter
Lapas Batam Bersama Sejumlah UPT Pemasyarakatan di Kepulauan Riau Laksanakan Pemusnahan Arsip Fisik
Dugaan Permintaan Uang Berkedok LSM di SDN 010 Pangkalan Serik Disorot, DPP Hulubalang Riau Desak APH Bertindak
Ketum IMO Indonesia, Yakub F. Ismail: Kementerian PU Bangun Infrastruktur, Tegakkan Integritas



